ふ & り
PROLOG
18 september 1944
Seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri sebuah gubug reot dalam hutan yang gersang seperti tanpa kehidupan, terlihat sejenak ia dalam keadaan tak berdaya, darah yang membasahi sekujur tubuhnya seakan tak mau berhenti menggenangi tubuhnya dan melukai sisa kehidupannya,
“tasukete,,,, tasukete ,,,,,”
Jeritan minta tolongnya seakan menggema dalam keheningan malam yang mungkin akan abadi baginya, luka yang semakin menyiksa kehidupannya, bahkan lebih kejam akan merenggut nyawanya dengan paksa , kembali ia menjerit, kembali ia merintih, namun apa yang terjadi detik demi detik sama saja, hening dan hampa, dalam tengah hutan yang tersembunyi, dimana seakan dimensi kehidupan telah terhenti, gaungan gaungan burung gagak telihat seakan mengabarkan malaikat maut sudah berada di sisinya, siap kapan saja merenggut kehidupannya tanpa ampun,
“tasukete,,,,, tasukete,,,,”
Ia mendatangi gubuk tua itu, mendobrak pintunya keras , tanpa ingin menunda lagi apa yang di inginkannya sejak tadi, seorang wanita terduduk di pojok yang berlantaikan tanah, terlihat pucat karena takut akan kehidupan selanjutnya
“itu penjajah, itu penjajah, oh gusti,, apakah aku akan mati olehnya, lindungi kami gusti,,”
Jeritnya dalam do’a hatinya, bayi lelaki yang ia gendong sejak tadi tak bergeming, tertidur pulas dalam dekapan sang ibu, menanti takdir yang tak di mengertinya sedikitpun , himura masih merenggang sakitnya,,,,
“tasukete,,,, tasukete,,,”
Dengan sigap, karna ia pun tau bahwa waktunya tak lama lagi, ia mengeluarkan sebuah kotak , berwarna hitam, tulisan kanji menghiasi pinggiran kotak tersebut, entah apa maksud himura melakukannya, ia menyodorkan kotak itu kepada ningsih yang masih terdiam di pojok ruangan
“ambillah ini, berikan kepada anak mu, titipkan pesan ku bahwa aku telah memilih dia sebagai pewaris kehidupan shingen takeda selanjutnya, jaga bendera ini, karna inilah satu-satunya symbol yang masih tersisa untuknya, ku mohon,,,, ku mohon,,,,”
Suasana kembali hening,, detik demi detik berlalu begitu saja tanpa mau mengabadikan moment tersebut sedikit pun, himura diam, ningsih pun diam , hanya suara dengkur sang malam yang menjamu alunan nada keduanya,
Malikat pencabut nyawa pun telah melakukan tugasnya dengan baik, tanah yang gersang itu kini tertutup darah, darah yang menggenang, darah dari sang penjajah , darah seorang jepang yang mewariskan sebuah bendera perang,,,,
Darah yang akan terus menjadi sebuah kenangan dalam kehidupannya, kemarin sekarang dan kelak untuk masa depannya,,,,,
BAB 1
“Masih sibuk bro?”
Angga yang sedari tadi memperhatikan temannya itu diam , mengutak-atik laptop kesayangan yang sudah ia anggap pacar abadinya itu tak bergeming sedikitpun, bahkan makanan dan minuman yang ia pesan sedari tadi tak di sentuh sedikit pun,
“deadline lagi el?”
Cowok yang di panggil el oleh angga ini , hanya menyungginkan senyum tipis khas hidupnya, tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari apa yang ia kerjakan, ya,,, dialah alino gasradika , cowok jangkung berkaca mata ini , bisa di anggap seorang novelis yang sedang naik daun, ia mnjadi terkenla setelah menerbitkan buku pertamanya , jika di tanya mengapa ia menulis, jawabannya selalu sama, dan dengan gaya yang sama pula.
“imajinasi di otakku terlalu penuh, maka.a aku bikin buku, emank.a salah?”
Dan sekarang I sinilah ia berada, di antara tumpukan deadline yang mengharuskannya untuk berimajinasi lebih dalam lag dari sebelumnya, ia terkesan agak tertutup, walaupun begitu ia tak luput juga dari kebiasaan galau anak muda,
Yapz,,, apalagi kalau bukan masalah cinta, tapi sayangnya, begitulah, seorang el yang masih gugup, malu dan sebagainya terus menerus menyembunyikan perasaannya, bagaimana tidak? Wanita itu sedikit lebih berkelas dari pada el, walaupun bukan cewek popular atau unpopular dan sebagainya, tapi el melihat sebuah keindahan dalam dirinya, sebuah keindahan yang hanya bisa di gariskan oleh imajiasinya sendiri, yang hanya bisa di utarakan kepada pacar abadinya, bukan orang ember seperti rangga J
“kalo lo trus trusan ngejer deadline novel lo, trus kapan lo mau ngenjer deadline cinta lo el?,”
Rangga semakin tak puas , karna semua pertanyaannya tak ada yang di gubris satupun, el menghembuskan nafas panjang lalu menutup pacar abadinya
“nah sekarang lo mau apa?”
Tantang el, sambil membetulkan letak kaca matanya, akhirnya rangga bisa tersenyum puas dengan tantangan el, memang ini yang ia harapkan sedari tadi
“ nah gitu dong,,,, dari tadi kek nanyaknya, gua hampir kering tau nungguin elo ngomong,,,”
“emank ada apaan sigh? Emang segitu pentingnya ea sampe lo harus nungguin gue gtu?
“ini tuh more than penting , gw laper el, lo traktir gw ea,,,,,,,,”
“idih, ngk perlu pakek muka memelas juga kelezz, gih sono pesen , bosen gw liat tampang lo,,,”
“ wah saraf lo kambuh neeh, tadi pagi lo udah minum obat atau belum sigh? Cowok ganteng kayak gw nee elo bosen liat, wah alien lu,,,”
El yang sudah siap dengan botol kecapnya siap melempar rangga akhirnya hanya bisa mengelus dada, itulah susahnya punya temen yang gokilnya kelewatan dimensi, ujung=ujungnya kita juga yang bakal kena bully,,,,,
.jpg)






ternyata buk korti kreatif ya, ga hanya hiperaktif
BalasHapuswkwk
wkwkwkwkk terima kasih banyak,,,
BalasHapus--"