Entri Populer

Selasa, 07 April 2015

DARK LIGHT

DARK LIGHT <3

 

 

 

BAB I

“ibu,,,,,,,,,!!!!!”
Raka terbangun , pukul 01:35 masih sangat dini hari untuk menyebutnya pagi , raka mimpi buruk lagi ,bayangan-bayangan masa lalunya berputar lagi seakan akan mencengkram hidupnya memintanya kembali jika tak ingin mengikuti, keringat dingin membasahi tubuhnya,
Suara binatang-binatang malam terus terdengar menyanyi menyuarakan malam yang mencekam itu
“kau harus melakukannya raka ,harus !!”
Suara itu terus menggema ditelinganya , perasaannya tidak tenang, di cobanya untuk merebahkan diri sesaat, tapi suara itu masih mengganggunya
“harus !!!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“tian,,,,,!!! Di luar gerimis,,,!! Masih tetep mau sekolah?? “
“sekolah bun,,, hari ini tian ujian”
Teriak tian berlari melewati tangga menuju meja makan
“yakin mau tetep sekolah? Di luar gerimis , mungkin lagi bentar hujan”
"yakinlah bun ,, kan ada payung”
“alergi mu?”
“tian udah siapin obat di tas kok bun, kalau mulai kambuh langsung tian babat,,, hehe gampangkan? “
Bunda hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan tian yang tidak pernah berubah,selalu keras kepala dan semua tutur katanya harus di ikuti tanpa tau seriko selanjutnya
“pagi bun”
Sapa raka yang terlihat sangat buruk pagi itu
“mimpi buruk lagi ka?”
Raka hanya menunduk sambil berjalan mendekati meja makan , tian menatapnya dan coba menenangkannya dengan senyuman
“semuanya bakal baik-baik aja,ngk ada yang perlu di khawatirin ,, senyum ya,,,”
Raka mengangguk tapi masih dengan tampang sayunya , tian bingung mau berkata apa lagi
“makan dulu gih , baru berangkat sekolah, buruan,, sebelum hujannya tambah besar”
Bunda meninggalkan mereka yangmelanjutkan makannya
“tian,,, jangan sampai alerginmu kambuh,,”
Lanjut bunda
”entar biar raka yang jagain k’tian bun ,,,”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


tik,,,,,,,
tik,,,,,,,
tik,,,,,,,
hujan semakin deras , tak terelakkan lagi mereka terjebak di halte dalam guyuran hujan yang semakin detik semakin bertambah deras,
“kapan hujan ini bakal berenti? Mauujian nih ,,”
“kk ujian?”
“iya ,, mana ujian bahasa jepang lagi,,”
Tian tak lelah-lelah menggerutu hujan yang makin deras, di tengoknya arlogi yang sedari tadi berembun karena hujan di samping mereka,,,
“ukgh telat ,,,”
Raka kembali terdiam melihat tian bergumam-gumam sendiri
“gimana kalau kita hujan-hujanan ke sekolah?”
Inisiatif tian ini membuatnya nekat menerobos hujan yang semakin deras
“jangan,,,!”
Teriak raka sambil menarik tangan tian di sonsong pelukannya ,
“kakak ngk boleh sakit,,, ngk boleh,,,, “
Suara raka yang parau membuat tian terdiam , entah apa yang ia rasakan,, seakan waktu berhenti sesaat untuk merasakan simfoni hujan di sekeliling mereka
Sebuah bis datang, tanpa menunggu persetujuan, tian melepas pelukan raka dan mencoba tersenyum dan berlalu kedalam bis, tetapi saat menaiki tangga tanpa ia sadari ponselnya terjatuh ,reflex raka berusaha mengambil ponsel itu di tengah guyuran hujan , pintu bistelah tertutup, sedetik kemudian melaju meninggalkan halte,
Raka tertegun, etah haruskah iamengejar bi situ atau kembali lagi ke halte tempatnya terjebak tadi
Guyuran hujan masih membasahipakaiannya, siluet masa lalu seakan berputar dalam ingatannya
Tentang ketiadaan,,,
Kehampaan,,,,,,
Dan keputus asaan,,,,,


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

9 tahun yang lalu
            Guyuran hujan membasahi sebuah halte , seakan menghalangi jalan kedua insan yang sedang menunggu jemputan
“ibu,,, ayah mana?”
Rengek raka sambil menari-narik ujung baju ibunya
“ibu,,, raka laper,,, dinginbu,,,”
Sang ibu hanya tersenyum menenangkan hati anaknya , di tatapnya hujan yang semakin lama semakin deras,air mata sang ibu meleleh seiring basahnya tempat duduk halte itu
“kita tidak boleh berlama-lama disini raka ,,, kita harus pergi,,,”
Sang ibu menarik lengan raka yang menggigil kedinginan,
Raka hanya menurut walau dirinya pun tak dapat lagi menopang beban tubuhnya
Di kejauhan tampak sebuah mobil sedang memperhatikan mereka, pengemudi itu  tersenyum sesaat dan berlalu,

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

3 tahun kemudian
            Professor mada dan seorang rambut putih melewati sebuah lorong apartement yang gelap dansenyap , lampu 5 watt yang sengaja di pasang seakan memberi kesan angker ,mereka menuju sebuah pintu yang tidak mencolok di ujung ruangan
“kau membawa kuncinya?”
“aku tak akan melupakan hal itu prof”
Dengan sangat seksama si pria membuka pintu dan sang professormemperhatikan sekelilingnya takut kalau ada yang tau tempat itu
“aman !”
Professor memberikan aba-aba , pintupun terbuka , tampak seorang laki-laki dewasa sedang meronta dengan tangan terikat dan mulut tersumpal lakban hitam
“buka mulutnya”
Dengan cepat si rambut putih menarik lakban yang menutupimulut lelaki itu
“pengecut!!!!”
Kata pertama yang keluar dari mulutnya
“aku baru tau kalau kalian adalah seorang pengecut!!!”
“bangsat!”
Sanggah professor mada dan mendekatinya
“kau kira aku tak tau kau yang menjual penemuan ku,, kemanakau bawa uang itu? Hah,,, ??!!”
“itu uang raka ! bukan uang itu yang kalian cari , dan bukanaku yang menjual penemuanmu, kenapa selama ini kau tidak percaya hah!?”
“kau pikir aku bodoh ?! uang yang selalu kau sembunyikan itu kau sebut uang raka? Bangsat !”
Emosi Professor mada tak terkendali , ia menendang perut lelaki itu sehingga membuatnya sempoyongan,
“kau pikir aku juga tak tau?”
Si rambut putih ikut bersuara
“uang warisan itu, di mana kau sembunyikan hah ?!”
Si rambut putih menarik kerah baju pria itu, lalu melemparnya,
“jawab!!!”
Pria itu tersenyum sinis,
“ternyata kau masih menginginkan uang itu, matamu sama saja dengan bangsat itu”
Apa kau bilang??!”
Satu pukulan keras mendarat telak di pipi pria itu, tak elak pukulan demi pukulan ia rasakan , puas ia melampiaskan emosinya ia pun melepas tubuh itu
“bagaimana sekarang prof?”
“bunuh dia!”
“sekarang?”
“ya! Tapi sebelum itu ambil sample darahnya”
”baik”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1 komentar: